Cuma Hitungan Hari, Nilai Tukar Bitcoin Capai Rp 108 Juta

Posted by

Bicara soal mata uang yang paling kontrovesional saat ini, maka bitcoin akan muncul di posisi teratas. Dianggap bisa merusak ekonomi dunia, mata uang cryptocurency ini memang tidak diatur oleh bank sentral sebuah negara. Hanya saja perkembangan bitcoin sebagai mata uang termahal mungkin tidak bisa

diremehkan. Hingga Jumat (17/11), nilai bitcoin menguat 1,3 persen dan menyentuh posisi 7.994 dolar AS atau setara Rp 107,9 juta selama empat hari berturut-turut.

 

Dilansir Bloomberg, nilai ini terhitung fantastis karena mata uang virtual itu sempat terjun bebas mencapai 29 persen pada awal bulan November. Di mana saat itu nilai bitcoin menyentuh 6.593 dolar AS (sekitar Rp 89 juta). Penurunan nilai itu diakibatkan pembatalan peningkatan teknologi yang membuat pasar bitcoin kehilangan 38 miliar dolar AS.

 

Bitcoin sendiri sempat turun drastis pada bulan Juni dan September 2017. Hanya saja melemahnya bitcoin membuat saham-saham perusahaan yang terkait cryptocurency ikut merosot. Seperti PC Partner Group Ltd di Hong Kong yang membuat kartu grafis (VGA) untuk memperoleh koin digital, seperti dilansir Kompas.

 

Imbas dari pembatalan peningkatan teknologi bitcoin ini membuat pengguna harus memilih di antara dua versi cryptocurencytakni bitcoin asli yang didukung teknologi Segwit dan bitcoin cash. Keberadaan koin-koin alternatif ini jelas menyebabkan volatilitas pada bitcoin. Karena di saat yang sama, nilai bitcoin cash telah naik dua kali lipat. Jika anda tidak tahu, bitcoin cash adalah jenis mata uang kripto seperti bitcoin yang mengalami pembaruan teknologi di mana blok yang membentuk blockchain lebih besar dan mampu menyimpan data lebih banyak sehingga transaksi lebih cepat dan murah.

 

Bitcoin Bukanlah Investasi Yang Aman

 

Atas nilai tukarnya yang begitu fluktuatif dan diburu banyak orang, Morgan Stanley James Gorman selaku CEO bank investasi asal Amerika Serikat menilai hal itu berlebihan. Dalam wawancaranya dengan CNBC, Gorman bahkan menganggap kalau bitcoin bukanlah investasi yang aman dan cenderung bersifat spekulatif.

 

“Sesuatu yang menguat 700 persen dalam setahun ini adalah spekulatif. Jadi siapapun yang berpikir mereka membeli sesuatu yang merupakan investasi yang stabil, mereka mengelabui diri sendiri. Nilai bitcoin bisa saja menguat 700 persen lagi, tapi bisa juga tidak,” jelas Gorman.

 

Senada dengan Gorman, CEO JPMorgan Chase yakni Jamie Dimon juga menyebut jika ada yang cukup bodoh membeli bitcoin, maka akan menerima dampak buruk suatu hari nanti. Cibiran pun juga datang dari Larry Fink selaku CEO BlackRock yang menuturkan kalau bitcoin ialah tindakan pencucian uang.

 

Bank di Asia Nilai Bitcoin Sebagai Skema Ponzi

 

Bukan hanya dari tokoh-tokoh lembaga keuangan, pandangan negatif bitcoin juga diungkapkan salah satu bank terbesar di Asia, DBS. David Gledhill selaku Direktur Teknologi Grup DBS sampai menilai jika bitcoin adalah skema penipuan keuangan layaknya ponzi yang ramai dibicarakan kala skandal First Travel milik Andika Surachman dan Anniesa Hasibuan menyeruak dan merugikan hingga Rp 848 miliar!

 

Jika anda tidak tahu, skema ponsi adalah modus investasi ilegal yang memberi keuntungan kepada investor dari uang mereka sendiri atau uang yang dibayarkan oleh investor berikutnya. Keuntungan tak diperoleh dari individu atau organisasi yang menjalankan kegiatan bisnis itu. Di mana lazimnya skema ponzi merayu para investor baru dengan menawarkan keuntungan besar dibandingkan investasi serupa dalam jangka pendek dengan tingkat pengembalian sangat tinggi.

 

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *