Jatuh-Bangun Seorang Ciputra, salah satu orang terkaya di Indonesia

Posted by

Idntodays – Jatuh-Bangun Seorang Ciputra, salah satu orang terkaya di Indonesia Ciputra merintis usahanya sejak masih jadi mahasiswa di ITB. Membangun bisnis bersama dua sahabatnya sesama mahasiswa ITB Budi Brasali dan Ismail Sofyan hanya bermodal ilmu arsitektur yang didapat di kampus. Mereka mendirikan CV Daya Tjipta.

Mereka berkeliling dari rumah ke rumah di Bandung mencari orang yang bersedia memakai jasanya.

Hingga akhirnya Ciputra menikah, punya anak dan menyandang gelar insinyur dari ITB.

Bagi Ciputra kala itu, hanya mengerjakan proyek-proyek kecil dan bertahan hidup saja tak membuatnya puas. Sebab itu, ia berniat membuat lompatan besar.

Maka dia memboyong keluarganya meninggalkan Bandung dan pergi ke Jakarta. Pada awal 1960-an, Jakarta sedang berbenah.

Tak ada cara lain supaya bisa dapat proyek besar kecuali bertemu dengan Gubernur DKI Jakarta yang saat itu dijabat Soemarno Sosroatmodjo.

Lewat perantaraan seorang kerabat, Ciputra berkenalan dengan Mayor Charles, mantan asisten Gubernur Soemarno.

Ciputra minta bantuan Charles untuk mempertemukannya dengan Gubernur Soemarno.

Entah apa yang dipikirkan Gubernur Soemarno, dia mau menemui dan mendengarkan paparan gagasan Ciputra yang baru lulus kuliah. Soemarno membenarkan konsep Ciputra namun pemerintah tak punya dana. Soemarno menunjuk satu wilayah Jakarta, kawasan Senen, yang perlu segera ditata.

Jatuh-Bangun Seorang Ciputra, salah satu orang terkaya di Indonesia

Dengan mengendarai sepeda motor, datanglah Ciputra ke kawasan Senen, Jakarta Pusat.

Yang dia lihat saat itu adalah satu kesemrawutan yang sempurna. Kios-kios dan lapak pedagang berimpitan sangat rapat, berebut tempat dengan rumah-rumah petak warga. Sampah bertebaran dan menggunung di mana-mana, seolah sudah jadi suatu hal yang wajar.

Berhari-hari, Ciputra bolak-balik menyusuri setiap pojok kawasan Senen sembari terus memutar otak, bagaimana caranya membereskan kesemrawutan itu. Dia balik ke Bandung menemui dua sahabatnya, Budi dan Ismail.

“Kita harus membuat maket yang sempurna,” kata Ciputra. Mereka tancap gas menggarap proyek itu siang-malam.

“Saya setuju. Sempurna…. Pertokoan dan permukiman memang tak boleh disatukan,” kata Gubernur Soemarno setelah menyimak presentasi Ciputra.

Soemarno pun mengajak Ciputra untuk bertemu Presiden Soekarno. Beberapa hari kemudian, Gubernur Soemarno dan tim Ciputra diterima Presiden Sukarno untuk mempresentasikan konsep peremajaan kawasan Senen.

Ciputra yang masih anak bawang mesti mengumpulkan keberanian dan kepercayaan diri.

Meski yang dihadapi hanyalah arsitek yang masih sangat muda, Presiden Sukarno menyimak pemaparan Ciputra dengan serius.

“Bagus sekali,” kata Presiden Sukarno.

Restu dari Presiden turun sudah, tapi ada satu masalah besar belum terselesaikan yakni masalah pendanaan.

Gubernur Soemarno berjanji akan membantu mengumpulkan sejumlah pengusaha untuk menyokong proyek itu.

Jatuh-Bangun Seorang Ciputra, salah satu orang terkaya di Indonesia

Berkumpullah beberapa pengusaha besar kala itu, seperti Hasjim Ning dan Agus Musin Dasaad, juga sejumlah petinggi bank, seperti Jusuf Muda Dalam,

bos Bank Negara Indonesia, dan Jan Daniel Massie, Direktur Utama Bank Dagang Negara.

Lahirlah PT Pembangunan Ibukota Jakarta Raya (Pembangunan Jaya) pada 3 September 1961.

Proyek Senen ini tak semulus rencana di atas kertas. Pedagang dan penduduk yang sudah bertahun-tahun berada di Senen menolak pindah dan melawan sengit setiap upaya menggusur mereka. Perlu usaha sangat keras, berkeringat dan berdarah-darah supaya Proyek Senen terus merayap ke depan.

Hingga Gubernur Jakarta berganti, Ciputra dan anak buahnya masih terus berjuang menuntaskan Proyek Senen. Akhirnya tiga blok berhasil mereka bangun, yakni Blok I, Blok II, dan Blok IV.

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *