Mitos Yang Terdapat Vitamin C Pada Skincare

Posted by

idntoday Mitos Yang Terdapat Vitamin C Pada Skincare.Vitamin C merupakan salah satu bahan yang paling umum dijumpai dalam produk-produk skincare. Di samping manfaatnya yang memang bagus untuk kulit, terbit pula beragam mitos tentangnya.

Ini dia enam mitos vitamin C yang banyak berkembang di masyarakat.

1. Semua vitamin C itu sama

Di kemasan depan, mungkin hanya terbaca produk skincare tersebut mengandung Vitamin C. Namun jika diperhatikan lebih teliti lagi di daftar ingredient, bahan yang satu ini bisa disebut sebagai L-Ascorbic Acid (vitamin C murni) atau nama lain, seperti ascorbyl glucoside, magnesium ascorbyl phosphate, ascorbyl tetraisopalmitate, dan bahan turunan lain yang berasal dari vitamin C. Bahan turunan tersebut biasanya mengandung aditif untuk membuatnya lebih stabil atau lebih mudah diserap.

Jika produk vitamin C yang kamu pakai tidak banyak membantu atau justru menyebabkan iritasi, cek ulang jenis vitamin C yang digunakan di produk tersebut. Alicia Yoon, pakar skincare Korea serta founder Peach & Lily, menyarankan untuk melihat berapa persen kandungannya dan berapa tingkat pH dari formula keseluruhan. Salah satu bahan turunan vitamin C yang tidak akan teroksidasi dengan mudah dan cenderung tidak menyebabkan iritasi adalah ascorbyl tetraisopalmitate.

2. Vitamin C hanya boleh digunakan pada malam hari

Anggapan ini berkembang luas karena vitamin C disebut dapat rusak jika terkena paparan sinar matahari, yang kemudian akan turut merusak kulit. Vitamin C yang bersifat asam pada kenyataannya terbukti dapat membantu melindungi kerusakan kulit akibat radikal bebas dari sinar matahari. Namun, bukan berarti kamu lantas boleh berhemat pakai sunscreen. Memasangkan vitamin C dengan suncreen bisa jadi ide bagus.

Memakai vitamin C di pagi hari bisa bermanfaat sebagai antioksidan. Sementara memakai vitamin C pada malam hari bisa bermanfaat untuk pengencangan dan peremajaan kulit, karena vitamin C terbukti meningkatkan produksi kolagen. Produk vitamin C juga memiliki tekstur yang berbeda-beda, mulai dari silky, tacky, creamy, hingga oily. Sesuai teksturnya, kamu juga bisa menyesuiakan mana yang ringan dipakai pagi hari atau malam hari.

3. Vitamin C hanya untuk jenis kulit tertentu, dan itu bukan untuk kulit sensitif

Tubuh manusia tidak dapat membuat vitamin C sendiri, jadi satu-satunya cara untuk mendapatkan manfaat dari vitamin C adalah lewat makanan atau pemakaian produk topikal. Kabar baiknya, vitamin C bisa cocok untuk semua jenis kulit.

Mitos Yang Terdapat Vitamin C Pada Skincare

Hanya saja, kamu mungkin perlu menemukan jenis vitamin C yang tepat. Untuk kulit sensitif, disarankan memakai produk turunan vitamin C dengan formula yang tidak terlalu asam.

4. Semakin tinggi persentase vitamin C, semakin baik

Secara alami, banyak orang yang beranggapan bahwa semakin tinggi konsentrasi vitamin C, maka semakin baik pula hasilnya. Penting untuk digarisbawahi bahwa pada konsentrasi sekitar 20%, kemanjuran mulai stabil. Ini berarti bahwa 30%, 40% dan 50% vitamin C murni tidak benar-benar meningkatkan manfaat produk.

Jika kamu rentan terhadap kulit yang lebih sensitif, konsentrasi vitamin C yang lebih tinggi dapat menyebabkan iritasi pada kulit, jadi sebaiknya gunakan persentase yang lebih rendah.

5. Vitamin C berkurang manfaatnya seiring waktu

Kabarnya, toleransi dan ketahanan seseorang terhadap vitamin C bisa meningkat. Dengan kata lain, manfaatnya bisa berkurang seiring waktu karena kulit menjadi kebal terhadap vitamin C.

Cara seseorang membangun resistensi adalah ketika jumlah reseptor berkurang atau menjadi kurang sensitif terhadap bahan tersebut. Penelitian tidak menunjukkan hal ini terjadi pada vitamin C, dan penelitian juga tidak menunjukkan bahwa ada reseptor spesifik yang terlibat dalam bagaimana vitamin C digunakan oleh kulit manusia.

6. Vitamin C tidak dapat dikombinasikan dengan acid yang lain, seperti retinol atau niacinamide

Sebuah penelitian lama menunjukkan bahwa vitamin C dan niacinamide berpotensi bereaksi membentuk nicotinic acid, yang dapat menyebabkan iritasi. Namun, potensi ini hanya ada jika ascorbic acid murni dan niacinamide digabungkan pada suhu yang sangat tinggi, yang mana ini tidak terjadi pada aplikasi perawatan kulit.

Faktanya, memasangkan vitamin C dan niacinamide bisa menjadi kombinasi yang unggul, terutama untuk mengatasi hiperpigmentasi karena keduanya bekerja dengan cara berbeda untuk memerangi perubahan warna. Vitamin C terbukti menghambat produksi pigmentasi yang berlebihan dan niacinamide terbukti membantu mencegah transfer pigmentasi yang diproduksi secara berlebihan di dalam sel.

Tentang kombinasi vitamin C dengan AHA, BHA, dan retinol, ada banyak kebingungan, terutama karena beberapa formula vitamin C bergantung pada pH. Apakah pH AHA atau BHA atau retinol yang lebih tinggi mengurangi kualitas? Apakah bahan aktif ini membatalkan manfaat vitamin C? Menurut Alicia Yoon, jawabannya adalah tidak.

Vitamin C dapat digunakan dengan acid lain dan retinol. Namun demikian, risiko terbesarnya adalah iritasi pada kulit. Bagi kebanyakan orang, kombinasi ini terlalu berlebihan untuk kulit. Iritasi ekstrem dapat menyebabkan banyak kerusakan dan dibutuhkan waktu lama sebelum kulit menjadi kurang reaktif dan menemukan keseimbangannya lagi. Alicia Yoon menyarankan untuk menggunakannya dalam jumlah sedikit lalu meningkatkannya secara berkala jika tertarik mencoba kombinasi ini.

Dibuat oleh – Cahyono idntodays.com

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *