PERCOBAAN MELIHAT STIGMA SAAT MEMBELI KONDOM

Posted by

PERCOBAAN MELIHAT STIGMA SAAT MEMBELI KONDOM

IDNPERCOBAAN MELIHAT STIGMA SAAT MEMBELI KONDOM ,

Mitos dan stigma yang berkembang seputar kondom membuat alat kontrasepsi ini seperti tabu untuk dibeli. Padahal,

kondom merupakan alat kontrasepsi paling efektif untuk mencegah penyakit menular seksual.

Sering kali orang yang membeli kondom dicap sebagai orang yang berperilaku negatif.

“Banyak yang kami temukan orang masih malu membeli kondom. Kalau misalnya di kasir sedang ramai,

akhirnya enggak jadi beli,” kata Head of Strategic Planning DKT Indonesia Aditya A Putra di International Conference on Indonesia Family Planning & Reproductive Health di Yogyakarta, beberapa waktu lalu.

melakukan sejumlah percobaan membeli kondom untuk membuktikan stigma mengenai pembelian kondom dalam rangka memperingati Hari AIDS Sedunia pada 1 Desember 2019.

Percobaan ini dilakukan di sejumlah gerai retail di dua kota besar di Indonesia yakni Yogyakarta dan Jakarta. Berikut temuan CNNIndonesia.com:

Di salah satu jalanan tersibuk Yogyakarta, saya bergegas menuju sebuah gerai retail 24 jam. Posisi toko itu berada di seberang hotel tempat saya menginap.

Malam sudah menunjukkan pukul 22.30 WIB. Saya masuk dengan kerudung yang menutupi dada, seperti siswa Madrasah. Cukup lama saya berputar-putar mengelilingi gerai yang kecil itu, sambil berulang kali melewati kasir. Posisi kondom ada di belakang kasir.

Yang saya tahu, beberapa gerai sengaja menempatkan kondom di belakang kasir untuk mempermudah pembelian.

Saya memberanikan diri untuk bertanya, “Ada kondom enggak, Mas?”

“Ada, mau yang mana Mbak?” kata seorang pria yang bertugas sebagai kasir malam itu. Wajahnya datar tanpa ekspresi. Dia juga tampak kelelahan dan mengantuk.

“Hmm, bedanya apa ya Mas?” tanya saya.

Sang kasir menyambut pertanyaan saya dengan tertawa. Namun, cepat-cepat dia langsung menahan tawa tersebut dan kembali memasang ekspresi datar.

“Kurang tau, Mba,” ujarnya.

Setelah berpikir cukup lama saya memilih salah satu produk kondom rasa buah. Setelah mendapatkan uang kembalian, saya keluar dari gerai tersebut.

Keesokan harinya, saya mencoba membeli kondom di salah satu gerai yang berada di kawasan pendidikan di Yogyakarta. Tak jauh dari gerai itu, terdapat sekitar tiga perguruan tinggi yang berdekatan.

PERCOBAAN MELIHAT STIGMA SAAT MEMBELI KONDOM

Saya masuk ke gerai itu sekitar pukul 12.00 siang. Kondisi toko sedang ramai-ramainya. Dua orang petugas kasir yang merupakan seorang perempuan dan seorang laki-laki melayani pembelian dari pelanggan yang antreannya cukup panjang.

Saya ikut mengantre lantaran kondom terletak di belakang kasir.

“Mau kondom, Mbak,” kata saya.

“Mau yang mana, Mbak?” kata kasir perempuan sambil tersenyum tipis.

“Adanya apa ya Mbak” tanya saya lagi.

Pertanyaan itu semakin membuat kasir mengembangkan senyum geli.

“Ada yang rasa-rasa,” ucapnya.

“Kalau yang sebelahnya itu apa ya?” kata saya menunjuk kondom tipe bergerigi.

Kasir itu tak mengetahui jenis tersebut. Dia lalu menanyakan kepada rekannya. Pembeli lain yang sudah mengantre ikut mendengarkan percakapan kami sambil melirik dan tersenyum geli.

“Oh, ini bukan rasa-rasa, enggak ada rasanya,” kata kasir pria itu sambil tersenyum tipis dan melanjutkan pekerjaannya.

Saya pun memilih kondom bertipe dotted itu. Pembelian itu diikuti senyum geli dua penjaga kasir, bahkan sampai saya keluar dari toko.

Percobaan berikutnya, saya membeli kondom di pusat kota Jakarta. Saya mendatangi sebuah gerai retail di pusat olahraga publik, seusai berolahraga di malam hari.

PERCOBAAN MELIHAT STIGMA SAAT MEMBELI KONDOM

Saya langsung mengantre di kasir, ada dua orang di depan saya. Saat tiba giliran saya, saya langsung bertanya.

“Ada kondom enggak ya, Mbak?” kata saya.

“Hah, apa?” kata kasir perempuan itu. Entah karena kaget atau benar-benar tidak mendengar.

“Kondom, Mbak,” jawab saya singkat.

“Oh, itu di belakang Mbak,” ucap kasir itu diikuti dengan tawa.

Di gerai ini, kondom ditempatkan di bagian belakang dengan penataan kemasan yang tertidur sehingga sulit terlihat.

Saat kembali mengantre untuk membayar, raut wajah kasir sudah kembali normal.

Selanjutnya, saya mencoba membeli kondom di gerai retail di dekat pool taksi di Jakarta Selatan.

“Ada kondom nggak ya Mbak?” tanya saya pada kasir yang sedang bertugas.

“Cuma tinggal dua ini, Mbak. Yang lain sudah habis,” kata kasir tersebut. Sepertinya dia sudah biasa melayani pembeli kondom.

“Bedanya apa ya Mbak?” tanya saya lagi.

Pertanyaan saya kali ini hanya dijawab dengan menyebut merek kondom saja. Kasir lalu mengambil kedua kondom yang tersisa itu, tanpa penjelasan.

Saya pun memilih salah satunya dan melakukan pembayaran.

Dari beberapa percobaan ini, stigma mengenai pembelian kondom tampaknya tak begitu kuat. Respons petugas hanya sekadar tersenyum dan tertawa.

Namun, petugas tak bisa menjelaskan mengenai produk selain dari merek dan varian rasa yang terdapat di kemasan. Padahal, informasi detail mengenai produk penting untuk dapat mengedukasi masyarakat

Hal ini termasuk mengkhawatirkan karena Uganda adalah negara dengan tingkat HIV yang cukup tinggi di dunia. Menurut UNAIDS, setidaknya ada 1,4 juta orang Uganda hidup dengan HIV. Tahun lalu ada sekitar 53 ribu orang baru yang terifeksi di negara Afrika Timur itu.

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *