Untuk Hormati Djaduk Semua Harus Gembira

Posted by

Untuk Hormati Djaduk Semua Harus Gembira

Untuk Hormati Djaduk Semua Harus Gembira
Idntodays.com – Untuk Hormati Djaduk Semua Harus Gembira, Semestinya Ngayogjazz tahun ini berjalan sendu. Tiga belas tahun digelar, untuk kali pertama acara itu tidak dihadiri penggagas sekaligus pengisi acaranya,

Djaduk Ferianto. Seniman musik kondang tersebut meninggal karena serangan jantung hanya tiga hari sebelum pertunjukan berlangsung di Dusun Kwagon, Sidorejo, Godean, Sleman, itu kemarin (16/11).

Sang kakak yang juga partner manggung Djaduk, Butet Kartaredjasa, meminta tak ada kesedihan. Semua yang datang harus gembira untuk pertunjukan yang kali ini juga menjadi tribute to Djaduk tersebut.

”Bersama nguntapke (simpati) Djaduk, jangan larut dalam kesedihan,” tutur Butet di panggung yang diberi nama Genteng itu.

Meski demikian, perasaan duka tetap terlihat dirasakan Butet. Tak ada guyonan renyah yang menjadi ciri khas keberadaannya. Suasana haru begitu terasa ketika Menko Polhukam Mahfud MD menceritakan kesannya tentang Djaduk.

”Setiap orang punya takdir tentang kematian. Kita semua hanya menunggu. Ibarat naik kereta, keretanya ada yang duluan, ada pula yang masih menunggu sekian lama.

Untuk Hormati Djaduk Semua Harus Gembira

Tapi, pada akhirnya semua akan seperti Mas Djaduk. Seperti cerita Bu Petra tadi, Mas Djaduk sudah berangkat ke rumahnya yang baru,” ujar Mahfud menyebut nama istri Djaduk.

Mahfud mengatakan, meninggalnya Djaduk terjadi dengan indah. Berlangsung cepat dan tidak merepotkan orang lain. Hampir tidak ada keluhan apa pun.

”Tidak mudah orang meninggal, tapi tidak merepotkan orang lain. Ada orang yang mau mati saja nggak bisa, sulit dan merepotkan orang yang hidup,” ungkapnya.

Tema tersebut menunjukkan, meskipun berbeda-beda, Indonesia tetaplah satu dengan segala keberagamannya. ”Seperti halnya musik jazz yang dimainkan di berbagai daerah dan terdiri atas beragam alat musik, bila disatukan bisa menghasilkan harmoni yang indah,” jelasnya.

Ngayogjazz kali ini juga menghadirkan kolaborasi dengan berbagai instansi dan komunitas untuk memberikan pengalaman baru bagi pengunjung.

”Misalnya, ada Perkalin (Perkumpulan Pekarya Layang-Layang Indonesia) untuk anak-anak, komunitas fotografi, serta Festival Bambu Sleman,” terang Bambang.

Ada juga satu program baru yang lahir dari gagasan almarhum Djaduk, yakni Museum Ngayogjazz. Berisi karya Djaduk yang berkisah mengenai musisi jazz zaman dulu yang dikemas dengan cara khasnya.

Dibuat oleh – Idntodays.com

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *